Wednesday, 20 November 2013

wanita dalam dua warna

Wanita,

Adalah sosok yang sering ditempatkan sebagai obyek. Dalam banyak peradaban, wanita lebih sering ditempatkan sebagai kasta kedua setelah laki-laki. Pula diperkuat oleh konsensus sosial bersama pun oleh beberapa agama. Akibatnya, ia lebih sering menjadi obyek. Dalam budaya jawa misalnya, istri adalah 'kanca wingking': teman belakang, hanya urusan dapur dan ranjang semata.
Selama berabad-abad posisi ini langgeng, lebih tepatnya dilanggengkan. Oleh ketidakberdayaan dan ketidakpeduliannya sendiri, pun oleh dominasi laki-laki yang nyaman dengan status 'penguasa'. Maka tak heran, takkala media ramai membahas prostitusi dan lokalisasi, wanita hampir selalu ditempatkan sebagai obyek. 
Obyek dikodratkan untuk kehilangan hak membela diri. Tatkala birahi pria yang menjadi satu diantara dua unsur utama transaksi, dalam hal ini transaksi seksual, wanita lah yang dipersalahkan: si penggoda. Juga hampir semua orang menjadi tutup mata terhadap hukum sederhana transaksi: adanya permintaan dan penawaran. Tak mungkin ada transaksi tanpa dua unsur ini, tapi...semua beramai-ramai mengutuk unsur penawaran.
Maka jadilah, demi melindungi 'kesucian' masyarakat, solusi atas prostitusi selalu pada bagaimana mengilangkan unsur penawaran. Birahi lelaki? Tak seksi untuk disalahkan.


Adalah sosok yang oleh banyak orang disebut sebagai puncak keindahan ciptaan - bagi para theis yang percaya penciptaan tentunya. Pun dalam dunia pengabadian gambar, wanita adalah keindahan yang selalu menarik untuk diabadikan. Namun pada kenyataanya, adalah sebuah kemustahilan untuk mengabadikan keseluruhan cerita dalam hitungan sepersatu detik. Alih-alih ingin mengabadikan kenyataan, kita justru terjebak untuk menangkap kisah-kisah artifisial.

dan inilah wanita, dalam dua warna....







Data gambar:
Kamera: Nikon FG, Fujca MPF 105
Lensa: Nikon 200mm F 4.0, EBC Fujinon 55mm F 1.8
Film: Lucky SHD ASA 100 
Developer: MMF
Fixer: Acifix

Monday, 30 September 2013

Rest In Peace, dear Canonet...


Perkenalkan Canon Canonet QL17 GIII

sumber: obscurecamera.files.wordpress.com


Kamera film 35mm buatan Canon pada tahun 1960an-1970an ini masuk dalam keluarga besar sistem Range Finder (RF), sebuah sistem yang sangat familiar di masa fotografi film, selain Single Lens Reflex (SLR) dan Twin Lens Reflex (TLR). Detail dari cara kerja sistem Range Finder bisa anda cari di internet. Secara ringkas, sistem range finder tidak menggunakan mirror untuk memantulkan bayangan dari lensa ke viewfinder sebagaimana yang dimiliki oleh sistem SLR. Sebagai gantinya, untuk membantu focusing , sistem RF menggunakan 2 jendela bidik khusus dimana  terdapat prisma dan mirror yang membentuk sudut sedemikian rupa.

Desain Canonet bereinkarnasi pada kamera-kamera modern, Fuji Film X100 ini salah satunya. Sumber:dpreview.


Fitur
Canon Canonet QL17 GIII memiliki lensa yang cukup tajam. Cukup wide juga untuk penggunaan sehari-hari (40mm, tanpa crop factor tentunya, film gitu hehehe). Dan yang sangat membantu, lensa si Canonet ini memiliki bukaan lensa cukup lebar (mulai dari 16 - 1.7). Tapi, jarang saya pakai sampai di angka maksimal, maklum, focusing menggunakan sistem RF lumayan menguras hati hehe. Untuk kecepatan, si Canonet dapat digunakan pada 1/4 -1/500 detik, plus Bulp tentunya.  Yang unik, seperti kamera-kamera RF pada umumnya, pengaturan speed berapa pada bodi/ring lensa, bukan bodi kamera.
Cukup di atas ekspektasi, si Canonet selain memiliki metering (berbentuk jarum), juga dilengkapi dengan fasilitas otomatisasi pengambilan gambar berupa Aperture Priority Mode. Pada mode ini, speed akan ditentukan secara otomatis tergantung lebarnya diafragma yang dipilih. Sangat membantu untuk pengambilan gambar yang membutuhkan kecepatan. Untuk menyuplai daya bagi metering system dan Aperture Priority Mode, Canonet membutuhkan baterai mercury 1,35 Volt. Adanya pelarangan penggunaan mercury di beberapa negara menyebabkan suplai baterai orisinil terhenti. Namun saat ini terdapat beberapa produsen yang memproduksi baterai replacement, meskipun harganya tergolong tinggi.
Untuk menyesuaikan dengan kecepatan film, Canonet dapat dipakai pada ASA 25-800. 

Built Quality
It's A Leica, It's A Tank, It's Canonet !!!
Dengan bahan hampir seluruhnya terbuat dari metal, jika dibandingkan dengan kamera digital modern saat ini, si Canonet tergolong berat. Bagi yang terbiasa menggunakan kamera saku, lumayan butuh adaptasi untuk menggunakannya. Canonet didesain dengan sudut-sudut yang kaku, khas kamera klasik. Bagi saya pribadi, penggunaan yang terlalu lama akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam menggenggam. Namun dengan built quality yang dimiliki, hampir semua pengguna Canonet merasa puas. Bahkan, beberapa orang menjulukinya Poor Man's Leica.

Beberapa Hasil

Lampung 2012

Bintaro 2012

Lampung 2012

Semarang (?) 2012


Namun sayamg...akibat kecerobohan saya, kamera luar biasa ini mengalami kerusakan yang tidak bisa diperbaiki lagi.

Rest In Peace, dear Canonet...



Thursday, 19 September 2013

Jakarta Railway Project: Hit & Run! (part 2)

Sebenarnya, rencana menulis project ini menjadi 2 part bukan karena saya sudah punya dua cerita untuk diceritakan. Saya bukan tipe orang yang bisa menyusun rapi rencana tulisan. Termasuk dalam blog ini, saya menggunakan metode Jembatan Imaji. Apa itu metode Jembatan Imaji? Istilah yang super keren ini ditemukan oleh saya sendiri sekitar 5 detik sebelum kalimat ini tertulis.hehehe...Saya bingung menamainya metode apa,,intinya adalah, dari foto-foto yang saya tangkap saya akan menulis apa saja yang terlintas dari benak saya secara spontan terkait obyek foto maupun terkait metode pengambilan foto.
Oke sebentar ya, saya googling dulu adakah istilah jembatan imaji di internet...takut melanggar hak cipta..hehehe...maaf ya jika ada pemiliknya, saya pinjam pakai...tapi tampaknya tak ada..

Masih seputar kereta api, gerbong, lokomotif, stasiun, dan transportasi massa, lahirlah pemikiran-pemikiran acak-spontan yang terlintas dari metode jembatan imaji tersebut:

1.  Waktu itu, saya duduk di gerbong yang lumayan padat pada rute pulang dari Stasiun Tanah Abang menuju Pondok Ranji. Hari Minggu di stasiun Tanah Abang akan banyak kita temui rombongan ibu-ibu yang akan pergi atau pulang dari belanja di pusat tekstil Tanah Abang. Pun juga dengan hari itu. Saya memandang berkeliling, pada deretan penumpang duduk terlihat sepasang suami istri, ibu-ibu, bapak tua, dan beberapa orang yang saya tak ingat detailnya. Mata saya segera tertuju pada pemandangan yang paling mencolok (karena tampak kontras): seorang pemuda berpakaian khas anak muda pemuja kebebasan: baju hitam, lengan bertato, celana jeans ketat sobek di beberapa bagian, sepatu boots, kalung dan gelang besi, dan pierching di beberapa bagian tubuh (saya sebut dia si metal). Di sisi lain saya lihat dua orang pemuda yang 'berbeda visi' dengan pemuda tadi: rambut rapi, badan bebas tato, dan  memakai pakaian keagamaan lengkap (saya sebut mereka duo alim). Di gerbong kami ada seorang ibu tua berdiri. Alih-alih langsung memberikan kursi, saya iseng mengadakan test kepekaan sosial: saya tunggu beberapa menit, di antara dua golongan tadi, siapa yang akan memberikan kursinya kepada si ibu tua. Ada yang bisa menebak? Jika yang memberikan kursi adalah duo alim, tentu ini bukan sebuah kejadian yang ganjil. Kejadian biasa. Sudah bisa diprediksi lah.  Jadi, yang memberikan kursi kepada ibu tua adalah si metal...
Itukah tebakan Anda?
Setelah menunggu selama beberapa menit, ternyata tidak ada yang memberikan kursi kepada si ibu tua, baik si metal maupun duo alim. Apa kesimpulannya...jadi ternyata,,tingkat kepekaan sosial berbanding bla bla bla...silakan simpulkan sendiri..hehehe...

2. Berbicara tentang transportasi massal, tak akan lepas dari pembicaraan mengenai maraknya pembangunan jalur-jalur tol baru, pembangunan monorail, serta naiknya produksi kendaraan bermotor roda dua dan roda empat. Okey, roda lima plus ban cadangan hehe..Saya bayangkan, (secara logika sederhana saja tanpa riset mendalam tentunya) seandainya pembangunan jalur-jalur tol baru digantikan dengan pembangunan jalur kereta dalam kota yang banyak, niscaya jumlah orang yang menggunakan transportasi massal meningkat. Alasannya: jalur kereta terdedikasi (bebas macet), kereta relatif lebih on time, jumlah penumpang yang diangkut banyak, dan saya rasa luas ruang  serta biaya yang diperlukan untuk membangun jalur kereta dan jalur tol relatif sama. Pembangunan jalur-jalur tol memancing penggunaan kendaraan pribadi meningkat, sedangkan pembangunan jalur-jalur kereta dalam kota memancing pemakaian transportasi massal. Tapi mengapa sang pemegang keputusan lebih memilih pembangunan jalan-jalan tol dan meluncurkan proyek Low Cost Green Car (mobil murah bercat hijau hehe) yang menggelikan itu? Bahkan, kita belum punya akses kereta menuju bandara internasional Soeta!
Lalu saya bayangkan lagi....jika saya membangun jalur kereta dalam kota,,,yang akan mendekat ke 'tumpeng' saya tersebut hanyalah produsen kereta api (hanya satu yang dominan, BUMN pula). Lain cerita jika saya bangun jalan-jalan tol dan meluncurkan proyek mobil murah bercat hijau,,,,,yang akan berebut 'tumpeng' saya adalah para produsen kendaraan bermotor roda dua dan empat (iya deh, lima!),,yang notabene adalah perusahaan swasta skala super besar dengan uang yang melimpah.
Pepatah mengatakan, 'kencing saja bayar bung!' Tidak ada yang gratis di jaman ini...apalagi 'tumpeng' saya yang menggiurkan itu dong...yang mau kebagian ya.....gitu deh....Jadi kesimpulannya...ya silakan simpulkan sendiri para pembaca saya yang cerdas...hehehe....

Depok
masih ada senyum di tiap perlombaan hidup

tenang nak, kugandeng kamu
siapa sudi?

taman bermain kita sekarang dipagari
di antara

path

tak ada pintu, kupanjat saja
Data gambar:
Kamera: Fujica MPF 105
Lensa: EBC Fujinon 55mm 1.8
Film: Lucky SHD 100 B&W
Developer: Micro MF
Fixer: Acific


Saturday, 14 September 2013

Jakarta Railway Project: Hit & Run! (part1)

Jika ada orang yang selalu kagum dengan rel, kereta api, atau lokomotif, maka saya adalah salah satunya. Oleh karena itu, dua minggu yang lalu lalu saya menyempatkan diri menikmati commuter line yang menjadi andalah masyarakat Jabodetabek, khususnya para pekerja. Lalu pikir saya, "kenapa tidak sekalian saya bawa kamera film saya untuk mengabadikan perjalanan ini?"

Dan jadilah "Jakarta Railway Project: Hit & Run!"

Rencana awalnya, saya akan membeli tiket dari stasiun utama (Tanah Abang atau Manggarai) ke stasiun-stasiun ujung, lalu berhenti di setiap stasiun yang dilewati untuk mengambil gambar. Tapi apalah daya, kereta tidak datang setiap 5 menit seperti di negara tetangga sehingga jika saya memakai metode ini, waktu saya akan habis terbuang menunggu kereta berikutnya.
Maka jadilah saya mengambil gambar tanpa berganti kereta, bahkan di beberapa  stasiun, saya tidak sempat keluar dari gerbong kereta sama sekali. Maklum, kereta kadang hanya berhenti kurang dari 10 detik.

Ternyata tidak gampang. Berikut kesulitan yang bagi saya sekaligus membuat penasaran:
1. Kamera dan lensa tdk bermotor,alhasil fokus harus dilakukan secara manual :(
2. Metering kamera ternyata tidak begitu normal, maklum kameranya seumuran si empunya :)
3. Di beberapa stasiun kereta hanya berhenti kurang dari 10 detik:
4. Saya awam dengen street photography. Sulit sekali menemukan momen.
5. Di beberapa stasiun, memotret harus ada izin dari kepala stasiun. Ini alasan saya mengapa menggunakan metode hit&run : sebelum ditegur petugas, saya masuk kereta lagi dan kabur...hehehe.

**O iya, sampai saat ini saya masih belum paham mengenai aturan mengambil gambar di area umum: taman, terminal, stasiun, jalan dll. Apakah ada privasi individu yang dilanggar jika saya mengambil gambar di sana (yang notabene adalah area publik)? Selama saya tidak mengganggu aspek keamanan dan ketertiban, haruskah saya meminta izin (tentu berbeda jika saya bermain handphone di pesawat terbang bukan)? Sedih juga dengan beberapa petugas/pengelola (?) tempat umum yang menarik uang kebersihan/uang perizinan/uang keamanan atau apapun istilahnya, kepada mereka yang mengambil gambar-terutama pengguna kamera DSLR (lalu apa bedanya dengan mengambil gambar menggunakan kamera handphone yang bebas-bebas saja)?**


Sebuah kebetulan pula, hari itu saya membuat janji untuk membeli film secara COD  di stasiun Rawa Buntu (dekat stasiun akhir Serpong). Maka jadilah saya mengambil Rute: Pondok Ranji-Rawa Buntu-Tanah Abang-Depok-Tanah Abang-Pondok Ranji. Beruntunglah saya memilih hari Minggu, kondisi commuter line cenderung lengang, kecuali di Tanah Abang tentunya (Ya, selalu penuh dengan rombongan ibu-Ibu belanja pakaian!)

Dan inilah beberapa potongan visual yang bisa saya ambil....

karena di sisi sana terlalu mainstream..

reklame kecepatan tinggi

tenang sayang, kulindungi kamu dari tukan foto aneh itu!

kereta sudah berasap, segera naik!

aku selalu tertunduk kelu di hadapan wanita, meskipun hanya gerbongnya...

yang mana saya tidak tahu itu rambu apa saudara-saudara...

yang lama janagn dilupakan

Dipo Lokomotif

Stasiun Tanah Abang: selalu ramai di hari minggu sekalipun

Ayah, itu ibu kah? // Bukan nak..

kosong

memilih gerbong

terik

tidak benar-benar buntu

Keterangan gambar:
Kamera: Fujica MPF 105
Lensa : EBC Fujinon 55mm 1.8
Film : Lucky SHD 100
Developer : Micro MF
Fixer: Acifix



Tuesday, 10 September 2013

60an

Setelah pada entry sebelumnya, saya menulis banyak hal tentang era 90an, sekarang saya akan menulis sesuatu tentang tahun 60an. Mengapa 60an? Mengapa angka 6?Apakah ini konspirasi lucifer, wahyudi, atau remason?Tenang, blog ini bukan blog soal teori konspirasi kok...hehe..

Satu hal yang langsung terlintas di pikiran saya tentang era 60an adalah G30S-PKI. Maklum, saya adalah bagian dari generasi korban doktrinasi orde baru. Dulu, hampir setiap tahun pemerintah mengadakan agenda nonton film G30S-PKI untuk anak-anak sekolah. Saya akui, doktrinasi itu cukup ampuh tertanam di alam bawah sadar saya. Ide-ide pokok yang berhasil ditanamkan kepada saya diantaranya adalah: bahwa PKI itu bengis, bahwa atheis itu jahat, dan bahwa komunis, atheis, dan sosialis itu adalah sama. Lalu apakah itu semua benar?Saya tak hendak menggurui, silakan cari saja di internet jika tertarik.hehe... Seiring usia bertambah, bukan informasi mengenai pemberontakan G30S-PKI yang menarik perhatian saya, tetapi apa yang menjadi konsekuensi setelah itu.
Terlepas dari banyaknya versi sejarah tentang pemberontakan, hampir semua sumber yang bisa saya akses menceritakan bahwa ada pembantaian besar-besaran atas nama penumpasan PKI setelah itu. Berapa angka korban yang divonis mati tanpa sidang pengadilan akibat penumpasan ini, tak ada yang tahu. Lagi pula, korban selalu ditempatkan sebagai pihak yang layak untuk dilenyapkan; untuk apa dihitung jumlahnya. Sayangnya, tak banyak upaya untuk mengungkap peristiwa sejarah ini. Selain beberapa cerpen,karya seni pop yang sedikit menyinggung peristiwa ini adalah film Gie (2005) karya Riri Riza. Dalam salah satu scene dikisahkan sahabat Gie, saya lupa namanya (diperankan oleh Thomas Nawilis) dieksekusi mati di Bali (di wilayah Klungkung seingat saya) akibat dituduh terlibat gerakan komunis.

Well, cukup dengan cerita sejarahnya. Lalu apakah saya akan memposting foto-foto tentang peristiwa tersebut yang saya ambil dari kamera film? Hehehe maaf, saya belum lahir saat itu. Sama sekali bukan foto-foto terkait peristiwa sejarah yang akan saya post disini.


Beberapa bulan yang lalu saya membeli film black&white 35mm murah-meriah merk 'ProXL' seharga Rp6.000,- per roll. Ya, saya tidak salah tulis, memang hanya Rp6.000,-. Saya juga tidak tahu apa kaitan antara film ini dengan salah satu operator telekomunikasi itu. Kata beberapa teman, film ini isinya sebenarnya adalah film-film kadaluarsa dari beberapa merk yang dibungkus ulang dan dilabeli merk baru. Karena penasaran langsung saya test 1 roll.

Jika kata '60an' secara otomatis menarik memori saya kepada peristiwa G30S-PKI, maka hasil pemrosesan film 'ProXL' ini secara otomatis mengingatkan saya pada nuansa foto film era 60an yang sudah dicetak di buku-buku pelajaran sekolah: kusam, minim detail, banyak distorsi, dan kotor.. Itulah mengapa saya tiba-tiba melantur soal peristiwa sejarah di medio 60an. Hehehe.. (Oke baiklah, saya mengaku, alasan kedua adalah karena saya tidak tahu harus menulis apa hahaha...)

Lalu, apakah saya kecewa dengan film ini? Sama sekali tidak! Justru sebaliknya, saya sangat menyukai hasilnya! Rasanya, hasil gambar yang minim detail, kusam, kotor oleh emulsi, dan distorsi lainnya justru menghasilkan mood yang menarik untuk saya. Selamat menikmati.



looks like Forrest Gump's shrimping boat, right? :)




Ibu penjual sate kulit di pasar Beringharjo, Yogyakarta

Bukan, bukan rumah suku Asmat

Informasi gambar:
Kamera : Fujica MPF105
Film : 35mm black and white 'ProXL'
Terimakasih untuk Dimas K.J. yang sudah bersusah payah memindai film negatifnya..

Monday, 9 September 2013

Ruang Publik

Ingatan saya kembali ke masa kecil. Cukup beruntung saya mengalami masa kecil di era 90an. Kata orang, siapapun yang lahir di tahun 80an akan disebut generasi 90. Baiklah, saya akan mengikuti pelabelan tersebut: resmilah saya menyebut diri sebagai generasi 90! "Hell yeaahh!!" kata James Hetfield.

Lalu apa yang istimewa di era itu? Banyak.
Dimulai dari MTV yang sedang mengalami masa kejayaan. Bayangkan, saya bisa menonton video clip atau tayangan live Metallica, Pearl Jam, Nirvana, Sound Garden, No Doubt,  (dan tentunya Sarah Sechan sebagai sang VJ) mondar-mandir berjam-jam di MTV. Tanpa bermaksud mengesampingkan sajian musik saat ini, bagi saya era 90an adalah surga musik.
Generasi 90an juga merupakan saksi transisi era analog ke digital. Transisi yang hampir mengubah setiap hal dalam keseharian. Dari kaset menjadi CD (masih ingat masa kejayaan Walkman generasi awal?), dari mesin ketik di kelurahan menjadi komputer, dan tentunya dari kamera film menuju kamera bersensor digital.

Sebenarnya, masih banyak kenangan manis di era 90an. Namun menyesuaikan dengan stok foto yang saya punyai (hehehe..), langsung saja ke tema tulisan ini, yaitu ruang publik. Dalam dua puluh tahun terakhir, populasi ruang publik mengalami kondisi yang memprihatinkan, semakin tergerus dengan ruang-ruang privat. Rasanya, mereka yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta lebih paham akan hal ini dibanding saya. Dahulu, masih banyak anak-anak yang menghabiskan waktu bermainnya dengan berinteraksi dalam permainan 'tradisional' semacam petak umpet, sepak bola, lompat tali, dan  sebagainya. Sekarang hal tersebut menjadi barang langka.

Ada dua hal setidaknya yang menyuburkan fenomena ini: keterbatasan ruang publik dan tekanan kemajuan teknologi. Lainnya mohon dicari sendiri.hehe..

Ruang publik semakin tergusur. Anak-anak dan keluarga kehilangan momen berharga bebas biaya. Di sisi lain, pilihan yang menjamur adalah mall. Mall, surga kemewahan dan simbol modernisme kebablasan. Bagaimana bisa berkoar-koar ingin menciptakan generasi yang produktif jika sedari kecil sudah disuguhi lingkungan yang konsumtif dan materialistis? Modernisme secara masif dikawinpaksakan dengan kemewahan dan dunia barat. Mengutip karya komikus Aji Prasetyo dalam komik sindiran sosial berjudul 'Hidup Itu Indah' (yang sepertinya sudah ditarik dari peredaran karena ada beberapa pihak yang tersingung dengan sindirannya), kita sebagai bangsa sudah men-jongos-kan diri dengan mengagungkan budaya asing. Ringkasnya, jika ingin dilihat modern harus kebarat-baratan, jika ingin dilihat suci harus ketimurtengah-ketimurtengahan (kok ribet nulisnya hehe). Jika di negera-negara yang kita jadikan kiblat modernisme ruang publik sangat diperhatikan, di sini ruang publik hanya dijadikan bonus. Liat saja pengembang perumahan yang menyediakan ruang publik setegah hati, sekedar pemanis deretan rumah-rumah yang berjubel.

Keterbatasan ruang publik berkoalisi secara mesra dengan tekanan kemajuan teknologi. Bagi anak-anak, hal paling signifikan dari kemajuan teknologi adalah jenis permainan. Jika dulu anak-anak berinteraksi dalam permainan petak umpet, sepak bola, atau lompat tali, sekarang interaksi sosial mereka dikebiri oleh hadirnya Playstat*on, Angry B*rd, dan teman-temannya. Pola interaksi manusia-manusia bergeser menjadi manusia-benda. Secara logis, menyebabkan rumus interaksi manusia-benda yang tertanam kuat di mas kecil kelak akan dipakai dalam pola interaksi manusia-manusia. Sudah bisa ditebak bukan, akan lahir generasi seperti apa? Bukan sebuah keniscayaan memang, namun gambaran masa depan yang diisi generasi self-sentris mau tidak mau muncul juga di pikiran saya.

Di tengah ketakutan akan punahnya ruang-ruang publik; ruang yang menjadi surga interaksi bebas biaya, interaksi bebas kemewahan, dan interaksi manusia-manusia; saya masih menemukan beberapa ruang publik terpelihara baik. Berikut sisa-sisa surga tersebut yang terekam dalam film saya....

dari pada antri lebih baik boncengan

pedestrian

bukan sekedar untuk berayun

mereka belajar memboikot dan menyabotase pesaing :)

yang tertib ya anak-anak

war machines?

ada tempat untuk si penyendiri



Data gambar
Kamera: Canon Canonet QL 17 GIII
Film : Lucky color asa 100 (discontinued), Fuji Film Superia asa 200

Thursday, 5 September 2013

Dunia Beton

Tan Malaka, salah satu tokoh besar yang dimiliki Indonesia, pernah menulis sebuah buku berjudul Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika. Namun bukan buku ini yang hendak saya bahas. Essay foto kali ini akan bertemakan materialisme.Materialisme dalam dunia filsafat (yang tidak saya geluti tentunya) bertumpu pada keyakinan bahwa hal-hal yang benar-benar ada adalah materi/material. Konsekuensinya, semua hal yang ada adalah hasil interaksi material. Materialisme tidak mengakui besaran/entitas/pihak lain seperti roh misalnya.

Tampaknya, materialisme secara tidak sadar menjadi dasar pemerintah ( dan masyarakat) mendefinisikan pembangunan dan indikator keberhasilannya. Bahwa pembangunan akan dianggap berhasil tatkala terdapat materi yang terukur. Seberapa besar pembangunan akan dipacu, tercermin dari skala materi yang dihasilkan. Lalu terciptalah apa yang saya sebut Dunia Beton. Ya, pembangunan paling mudah ditandai dengan menancapkan beton-beton pada perut bumi, menciptakan ruang-ruang megah, menyuburkan ruang-ruang penyedot uang. Mau bagaimana lagi, keberhasilan membangun beton-beton lebih mudah dilihat dibanding membangun manusia. Beton-beton lebih mudah diukur dari pada kemajuan pemikiran masyarakat, dan tentunya beton-beton lebih menghasilkan uang.

Berikut adalah yang terbentuk dan tersisa dari dunia beton...

'jangan lompat, biaya rumah sakit mahal"

'pejuang gerobak'

'alibi si ayah'

'lift heavy stuff, not my salary'

'my rolling stone kite vs. the world'

'apa kabar istri di rumah'

'dari tanah kembali ke tanah'


Foto dibuat dengan:
kamera Nikon FG dan Fujica MPF 105
lensa Nikkor 200mm, EBC Fujinon 55mm
film Lucky SHD 100 black and white
terima kasih untuk Kemal Pasha di BSD atas pemrosesan filmnya.