Beberapa bulan yang lalu saya membeli film black&white 35mm murah-meriah merk 'ProXL' seharga Rp6.000,- per roll. Ya, saya tidak salah tulis, memang hanya Rp6.000,-. Saya juga tidak tahu apa kaitan antara film ini dengan salah satu operator telekomunikasi itu. Menurut beberapa teman, film ini isinya adalah film-film kadaluarsa dari beberapa merk yang dibungkus ulang dan dilabeli merk baru. Karena penasaran langsung saya test 1 roll.
Hasil pemrosesan film 'ProXL' ini secara otomatis mengingatkan saya pada nuansa foto film era 60an yang dicetak di buku-buku pelajaran sekolah: kusam, minim detail, banyak distorsi, dan kotor.
Lalu, apakah saya kecewa dengan film ini? Sama sekali tidak! Justru sebaliknya, saya sangat menyukai hasilnya! Rasanya, hasil gambar yang minim detail, kusam, kotor oleh emulsi, dan distorsi lainnya justru menghasilkan mood yang menarik untuk saya. Selamat menikmati.
![]() |
looks like Forrest Gump's shrimping boat, right? :) |
![]() |
Ibu penjual sate kulit di pasar Beringharjo, Yogyakarta |
![]() |
Bukan, bukan rumah suku Asmat |
Informasi gambar:
Kamera : Fujica MPF105
Film : 35mm black and white 'ProXL'
Terimakasih untuk Dimas K.J. yang sudah bersusah payah memindai film negatifnya..
No comments:
Post a Comment